Anak Muda kena GERD. Ini 5 Kebiasaan Sepele Pemicu Asam Lambung Naik

Foto Page Detail

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung adalah kondisi dimana asam lambung naik kembali ke kerongkongan, menyebabkan gejala seperti heartburn (rasa terbakar di dada), regurgitasi (makanan/asam kembali ke mulut), dan sensasi tidak nyaman di dada atau perut atas. Kondisi ini semakin sering dilaporkan bahkan pada anak muda, terutama yang memiliki gaya hidup tak teratur dan pola makan buruk.

Gejala GERD

1. Heartburn (Nyeri Terbakar di Dada)

Gejala paling khas dari GERD adalah sensasi terbakar di belakang tulang dada setelah makan atau saat berbaring, yang sering memburuk pada malam hari.

2. Regurgitasi Asam / Makanan

Kembalinya isi lambung atau asam lambung ke mulut atau tenggorokan — menyebabkan rasa pahit atau asam di belakang mulut.

3. Mual dan Nyeri Dada

Beberapa pasien merasakan mual, sakit dada, atau ketidaknyamanan di dada bagian atas yang kadang sulit dibedakan dari nyeri jantung.

4. Gangguan Menelan (Dysphagia)

Pada beberapa kasus, kesulitan atau rasa terhambat saat menelan makanan dilaporkan, terutama jika ada iritasi atau peradangan pada esofagus akibat refluks kronis.

5. Sendawa dan Sensasi Kembung

Penelitian pada remaja menunjukkan bahwa sendawa yang sering dan kembung dapat muncul sebagai gejala GERD, meskipun persentasenya lebih rendah dibanding gejala utama lainnya.

6. Gejala Ekstra‑Esofagus

Walaupun jarang, beberapa pasien mungkin mengalami batuk kronis, suara serak, atau iritasi tenggorokan, akibat naiknya isi lambung yang mencapai area dekat pita suara.

Kebiasaan Sepele Pemicu GERD

Berikut adalah 5 kebiasaan sepele yang menurut penelitian ilmiah dapat memicu atau memperburuk gejala GERD:

1. Pola Makan yang Tidak Tepat

  • Makan porsi besar sekaligus atau hanya 1–2 kali sehari

Kebiasaan makan besar sekaligus dalam satu waktu atau makan dengan pola yang tidak teratur dapat meningkatkan tekanan di lambung dan memicu refluks asam lambung. Penelitian menunjukkan bahwa makan volume besar atau hanya 1–2 kali sehari berkaitan dengan lebih banyak gejala GERD dibandingkan dengan pola makan lebih sering dan teratur. Usahakan makan 3 kali sehari dengan porsi sedang, dan hindari makan terlalu banyak dalam satu waktu.

  • Makanan tinggi lemak, pedas, atau asam

Konsumsi makanan tinggi lemak (misalnya gorengan atau makanan cepat saji), pedas, atau asam berkaitan dengan peningkatan gejala GERD karena makanan ini dapat memperlambat pengosongan lambung dan memicu refluks.

  • Makan terlalu cepat

Sebuah studi pada pasien dengan GERD menunjukkan bahwa makan terlalu cepat atau kurang mengunyah berkorelasi kuat dengan munculnya gejala GERD. Orang yang makan cepat cenderung menelan lebih banyak udara dan lebih cepat merasa penuh, yang memicu refluks.

  • Minuman berkafein atau bersoda

Minuman seperti kopi, soda, dan minuman berkarbonasi sering dikaitkan dengan peningkatan gejala refluks karena dapat menurunkan tekanan sfingter esofagus bagian bawah serta mempercepat naiknya asam lambung. Meskipun hasil antara studi bisa bervariasi, banyak penelitian menemukan hubungan antara konsumsi kafein/karbonasi dengan frekuensi gejala GERD.

Tips: Makan dengan porsi sedang, kunyah perlahan, beri jeda sebelum tidur, batasi makanan/minuman pemicu.

2. Merokok

Merokok adalah salah satu faktor gaya hidup yang berkaitan signifikan dengan GERD. Bahan kimia dalam asap rokok dapat melemahkan sfingter esofagus bawah (lower esophageal sphincter/LES), sehingga asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Studi riset besar menyebut merokok sebagai faktor risiko GERD yang dapat dikendalikan.

Tips: Berhenti merokok dapat mengurangi frekuensi refluks.

3. Stres dan Kecemasan

Stres dan kecemasan meningkatkan produksi asam lambung, memperburuk refluks, dan memicu kebiasaan makan yang kurang sehat. Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara stres/emosi negatif dan gejala GERD.

Tips: Kelola stres dengan olahraga ringan, meditasi, hobi, atau teknik relaksasi lainnya.

4. Pola Tidur Buruk dan Tidur Segera Setelah Makan

Penelitian menegaskan bahwa kualitas tidur yang buruk serta kebiasaan tidur terlalu cepat setelah makan (misalnya kurang dari 2–3 jam) berkaitan dengan peningkatan gejala GERD. Tidur saat perut masih penuh, ketika tubuh dalam posisi horizontal, mempermudah terjadinya refluks asam karena gravitasi tidak membantu menahan isi lambung.

Tips: Perbaiki pola tidur 6-7 jam sehari dan beri jeda 2-3 jam antara waktu makan dan waktu tidur

5. Kurangnya Aktivitas Fisik

Gaya hidup sedentari sering dikaitkan dengan frekuensi gejala GERD yang lebih tinggi, selain berdampak pada pola makan dan berat badan.

Tips: Tetap aktif bergerak setiap hari, olahraga ringan minimal 30 menit, untuk membantu pencernaan dan mengurangi refluks.

Kesimpulan

GERD bukan hanya masalah orang dewasa, anak muda pun bisa mengalaminya akibat gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari. Lima kebiasaan sepele yang sering memicu refluks asam lambung meliputi: pola makan buruk, merokok, stres dan kecemasan, tidur atau berbaring terlalu cepat setelah makan, serta kurangnya aktivitas fisik. Dengan mengubah kebiasaan ini, seperti makan porsi sedang, mengatur waktu tidur setelah makan, berhenti merokok, mengelola stres, dan rutin bergerak, risiko gejala GERD dapat dikurangi secara signifikan. Jika gejala sering muncul atau mengganggu aktivitas, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter agar komplikasi serius dapat dicegah.

Daftar Pustaka

  1. Yamamichi, N. et al. (2012) ‘Lifestyle factors affecting gastroesophageal reflux disease symptoms: A cross-sectional study of healthy 19,864 adults using FSSG scores’, BMC Medicine, 10, Article 45. Available at: https://bmcmedicine.biomedcentral.com/articles/10.1186/1741-7015-10-45 (Accessed: 30 January 2026).
  2. Jarosz, M. and Taraszewska, A. (2014) ‘Risk factors for gastroesophageal reflux disease: The role of diet’, Przegląd Gastroenterologiczny, 9(5), pp. 297–301. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25396005/ (Accessed: 30 January 2026).
  3. Taraszewska, A. (2021) ‘Risk factors for gastroesophageal reflux disease symptoms related to lifestyle and diet’, Rocznik Państwowego Zakładu Higieny, 72(1), pp. 1–7. Available at: https://doaj.org/article/d1bc86b2d9674bfeb81f30d9a2718d1b (Accessed: 30 January 2026).
  4. Yuan, L. et al. (2017) ‘Study on lifestyle in patients with gastroesophageal reflux disease’, Chinese Journal of Gastroenterology, [online]. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28626103/ (Accessed: 30 January 2026).
  5. Quach, D.T. et al. (2023) ‘Dietary and lifestyle factors associated with troublesome gastroesophageal reflux symptoms in Vietnamese adults’, Journal of Gastroenterology and Hepatology, [online]. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38024385/ (Accessed: 30 January 2026).
  6. Nabila, D.M. and Angraini, D.I. (2024) ‘Penatalaksanaan pasien remaja laki-laki usia 15 tahun dengan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD)’, Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine, [online]. Available at: https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/view/3514 (Accessed: 30 January 2026).
  7. Royani, I. et al. (2024) ‘Hubungan gastroesophageal reflux disease (GERD) dengan konsentrasi belajar mahasiswa angkatan 2021’, Fakumi Medical Journal, [online]. Available at: https://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/410 (Accessed: 30 January 2026).
  8. Kuswono, A.D. et al. (2026) ‘Kejadian gastroesophageal reflux disease (GERD) berdasarkan GERD-Q pada mahasiswa kedokteran’, Baiturrahmah Medical Journal, [online]. Available at: https://jurnal.unbrah.ac.id/index.php/brmj/article/view/1062 (Accessed: 30 January 2026).
  9. Kahrilas, P.J. et al. (2021) ‘Gastroesophageal reflux disease’, Journal of the American Medical Association (JAMA), 325(16), pp. 1644–1655. Available at: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2774410 (Accessed: 30 January 2026).
  10. Wang, Z. et al. (2025) ‘Association of healthy lifestyle behaviors with incident gastroesophageal reflux disease’, Preventive Medicine Reports, [online]. Available at: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2211335525003158 (Accessed: 30 January 2026).
     

Mengenali gejala sejak awal merupakan langkah paling bijaksana dalam menjaga kualitas hidup Anda dan keluarga. Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas yang menetap lebih dari dua minggu, segera konsultasikan kondisi Anda dengan tim dokter Spesialis Penyakit Dalam (Hepatologi) kami di jaringan Charitas Group. Pemeriksaan lebih awal memungkinkan penanganan yang lebih tepat, efektif, dan terukur sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.

Sebagai bentuk kepedulian kami, Charitas Group menyediakan layanan diagnostik saluran cerna yang komprehensif, termasuk prosedur Endoskopi untuk melihat kondisi lambung dan kerongkongan secara langsung dan akurat. Jangan menunda kesehatan Anda hanya karena rasa tidak nyaman yang dianggap biasa; mendapatkan diagnosis yang akurat adalah langkah awal menuju ketenangan pikiran dan pemulihan yang optimal. Tim medis kami siap mendampingi setiap langkah perjalanan kesehatan Anda dengan pelayanan yang penuh kasih.

Jadwalkan konsultasi Anda dengan dokter pilihan di jaringan Charitas Hospital melalui aplikasi MyCharitas. Anda bisa mengecek jadwal praktik dokter spesialis, melakukan reservasi tanpa antre, hingga memantau promo paket pemeriksaan kesehatan terbaru. Mari proaktif menjaga kesehatan lambung Anda demi masa depan yang lebih nyaman #BersamaCharitas.


Kembali
Charitas Mobile Care